Pemuda Mengaku Membunuh Ayah, Polisi Sisir Dua Rumah di Brebes

waktu baca 3 menit
Minggu, 18 Okt 2026 05:55 3 Redaksi Jateng

 

Poskotanews, Brebes –  Polisi menyisir dua rumah di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Penyisiran dilakukan setelah seorang pemuda, Hadi El Syarif, 24 tahun, datang ke kantor polisi dan mengaku membunuh ayahnya, Waslam, sekitar 50 tahun.

Tim Inafis Satreskrim Polres Brebes melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di dua lokasi yang disebut Hadi berkaitan dengan kasus tersebut. Hadi turut dibawa ke lokasi untuk menunjukkan tempat-tempat yang dimaksud dalam keterangannya kepada polisi.

Lokasi pertama adalah rumah yang ditempati Hadi bersama ayah, ibu, dan dua adiknya. Kepada polisi, Hadi mengaku pembunuhan terhadap Waslam terjadi di rumah tersebut. Ia juga menyebut jasad ayahnya dipotong di lokasi itu.

Polisi kemudian memeriksa rumah kedua yang berada di kompleks perumahan di Desa Kemukten. Di rumah tersebut, Hadi mengaku merebus potongan jasad selama dua hari. Setelah itu, ia menyebut tulang-belulangnya dibakar selama dua hari.

Polisi belum menyimpulkan pengakuan tersebut sebagai fakta. Olah TKP dilakukan untuk mencocokkan keterangan Hadi dengan temuan di lapangan.

“Awalnya Polsek Kersana kedatangan seorang pemuda, warga Desa Kemukten. Dia datang sekitar pukul 17.30, Kamis malam dan mengaku telah membunuh orang, yaitu ayahnya. Berdasarkan pengakuan tersebut kami tindaklanjuti,” kata Kapolsek Kersana AKP Teguh Adi Winarko di lokasi olah TKP, Sabtu.

Menurut Teguh, polisi telah memanggil sejumlah orang untuk dimintai keterangan di Polres Brebes. Hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi akan menjadi bahan untuk menentukan langkah penyidikan selanjutnya.

“Selanjutnya kalau bukti-bukti terkumpul nanti akan dinaikkan dalam tahap penyidikan,” ujar Teguh.

Hadi mendatangi Mapolsek Kersana pada Kamis malam, 16 Oktober 2026. Saat itu, dia mengaku telah membunuh ayahnya sekitar empat bulan sebelumnya.

Dalam keterangannya, Hadi juga menyebut jasad Waslam dipotong menjadi beberapa bagian. Ia mengaku membutuhkan waktu sekitar empat hari untuk menghilangkan jejak sebelum bagian tubuh tersebut dibuang ke dua sungai yang berbeda.

Keterangan itu masih didalami polisi. Hadi dan sejumlah anggota keluarganya, termasuk ibunya, diperiksa untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebenarnya.

Hadi kini diamankan di Mapolres Brebes untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Keluarga Mengira Waslam Berjualan Siomay

Pengakuan Hadi mengejutkan keluarga dan warga Desa Kemukten. Selama beberapa bulan, tidak ada yang mengetahui secara pasti keberadaan Waslam.

Taryono, paman Hadi, mengatakan keluarga baru mengetahui persoalan tersebut setelah polisi datang ke rumah dan memasang garis polisi.

“Saya kaget, tiba-tiba ada polisi yang ramai-ramai datang ke rumah Hadi dan memasang garis polisi. Kita tahu informasi Hadi mengaku membunuh ayahnya juga dari media sosial,” kata Taryono.

Menurut Taryono, selama ini keluarga mengetahui Waslam bekerja sebagai penjual siomay di Kota Tegal. Keterangan tersebut membuat hilangnya Waslam dalam waktu lama tidak segera menimbulkan kecurigaan.

Ina, bibi Hadi yang tinggal di sebelah rumah keluarga tersebut, juga mengatakan warga selama ini mengetahui Waslam berjualan siomay di Tegal.

Polisi kini turut menggali hubungan antara Hadi dan ayahnya. Dari informasi yang diperoleh di lokasi, Hadi diduga menyimpan kemarahan terhadap Waslam yang berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga.

Waslam disebut sudah lama tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia juga disebut kerap meminta uang kepada istrinya untuk membeli rokok. Namun, dugaan konflik keluarga tersebut masih didalami dan belum menjadi kesimpulan polisi mengenai motif kasus.

Dikenal Pendiam

Di lingkungan tempat tinggalnya, Hadi dikenal sebagai pemuda pendiam dan penurut. Ia disebut dekat dengan ibu dan dua adiknya.

Setelah lulus sekolah, Hadi pernah bekerja di sebuah pabrik sepatu. Ia kemudian mengundurkan diri karena persoalan penghasilan dan menjalani sejumlah pekerjaan serabutan, termasuk mengamen.

Hadi juga diketahui pernah membeli rumah subsidi di desanya secara kredit ketika masih bekerja di pabrik.

Kini polisi masih memeriksa Hadi dan sejumlah saksi untuk memastikan apakah pengakuannya mengenai kematian Waslam sesuai dengan bukti-bukti yang ditemukan. Hasil pemeriksaan dan olah TKP akan menentukan apakah perkara tersebut dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA