Critical Crisis Menara Gading yang Keropos, Kritik Marzilis terhadap Dunia Akademik Indonesia

waktu baca 3 menit
Rabu, 7 Okt 2026 19:23 12 red 2

JAKARTA, — Kritik terhadap birokrasi, kelembagaan, hingga berbagai institusi negara yang muncul dari sejumlah elemen masyarakat dinilai dapat menjadi cerminan menurunnya tingkat kepercayaan publik. Fenomena tersebut kemudian kerap dikaitkan dengan istilah critical crisis, yakni kondisi ketika daya kritis dan kepercayaan terhadap institusi menghadapi persoalan serius.

Persoalan serupa turut menjadi perhatian sosiolog dan penulis Marzilis melalui buku terbarunya berjudul “Menara Gading yang Keropos: Skandal, Birokrasi, dan Kematian Nalar di Dunia Akademik Indonesia.”

Buku setebal 280 halaman tersebut diluncurkan di Jakarta pada 7 Oktober 2026. Karya itu diharapkan menjadi bahan refleksi sekaligus otopsi kritis terhadap berbagai persoalan yang dinilai terjadi dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Melalui bukunya, Marzilis mengangkat sejumlah persoalan yang menurutnya membuat perguruan tinggi semakin jauh dari fungsi idealnya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, peradaban, dan kebenaran ilmiah.

Ia menyoroti sejumlah isu, mulai dari persoalan etika akademik, hiper-birokratisasi, hingga menurunnya daya kritis di lingkungan kampus.

“Universitas yang seharusnya menjadi menara gading tempat ilmu pengetahuan murni dirawat, kini justru keropos dari dalam,” ujar Marzilis dalam acara peluncuran bukunya di Jakarta.

Menurut Marzilis, sejumlah fenomena seperti dugaan praktik perjokian karya ilmiah demi memperoleh gelar, komersialisasi jabatan profesor, serta tingginya beban administrasi akademik menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Ia menilai, apabila persoalan tersebut tidak dibenahi, perguruan tinggi berisiko lebih menonjolkan fungsi administratif dan pencapaian gelar dibandingkan peran intelektualnya dalam melahirkan gagasan serta penelitian yang memberikan dampak bagi masyarakat.

“Jika ini dibiarkan, kampus hanya akan menjadi pabrik pencetak ijazah, bukan pusat pemikir bangsa,” katanya.

Tiga Persoalan Krusial

Dalam buku tersebut, Marzilis membedah sedikitnya tiga persoalan yang dinilai saling berkaitan dalam memengaruhi kondisi dunia akademik.

Pertama, skandal etika. Bagian ini mengurai sejumlah persoalan seperti plagiarisme, praktik perjokian jurnal ilmiah, hingga pemberian gelar kehormatan Doctor Honoris Causa yang menurut penulis perlu dikaji dari aspek integritas dan kepentingan yang melatarbelakanginya.

Kedua, belenggu birokrasi. Marzilis mengkritik mekanisme publish or perish yang menurutnya dapat berubah menjadi sekadar target administratif apabila tidak disertai orientasi pada kualitas dan dampak penelitian.

Ia juga menyoroti banyaknya tuntutan administratif yang dinilai berpotensi menyita waktu akademisi sehingga mengurangi ruang untuk melakukan penelitian yang substantif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ketiga, kematian nalar. Marzilis menganalisis apa yang ia pandang sebagai munculnya iklim anti-kritik dan komersialisasi pendidikan yang berpotensi membatasi kebebasan akademik.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kualitas lulusan apabila pendidikan tinggi lebih menekankan kepatuhan terhadap kebutuhan pasar kerja dibandingkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

Menawarkan Blueprint Reformasi

Meski berisi kritik terhadap berbagai persoalan di dunia akademik, Marzilis tidak berhenti pada kritik.

Pada bagian akhir buku, ia menawarkan cetak biru atau blueprint reformasi struktural yang diharapkan dapat menjadi bahan pemikiran untuk memperbaiki tata kelola dan masa depan pendidikan tinggi Indonesia.

Gagasan tersebut ditujukan bukan hanya kepada pengelola perguruan tinggi, tetapi juga akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, serta masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap perkembangan intelektual bangsa.

Bagi Marzilis, perguruan tinggi seharusnya tidak sekadar menjadi tempat memperoleh gelar akademik. Kampus idealnya tetap menjadi ruang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menguji gagasan secara terbuka, serta melahirkan pemikiran kritis yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Tentang Penulis

Marzilis dikenal sebagai sosiolog, peneliti, dan penulis yang menaruh perhatian pada isu korupsi, birokrasi, serta dinamika sosial di Indonesia.

Melalui berbagai karya dan pemikirannya, Marzilis menyoroti pentingnya menjaga daya kritis, integritas, dan akal sehat dalam ruang publik.

Buku “Menara Gading yang Keropos: Skandal, Birokrasi, dan Kematian Nalar di Dunia Akademik Indonesia” menjadi salah satu karya yang secara khusus mengajak pembaca melihat kembali posisi perguruan tinggi di tengah perubahan sosial dan tuntutan birokrasi pendidikan.

Buku tersebut diharapkan dapat menjadi bahan diskusi bagi akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, maupun masyarakat umum dalam melihat masa depan pendidikan tinggi Indonesia secara lebih kritis dan konstruktif.

Penulis: Susmono (Ramsus)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA