Untuk Proses Evakuasi Dua Jenazah Guru di Papua Cukup Alot, KKB Minta Uang Cukup Banyak

-Nasional-1,217 views
Content Protection by DMCA.com

Laporan : Erwin Silitonga

PAPUA,poskota – Ternyata untuk proses evakuasi dua jenazah dan lima guru, serta dua balita dari Distrik Beoga, Kabupaten PuncakPapua  berlangsung alot, sebab KKB meminta uang cukup besar.

Hal ini dikatakan Bupati Puncak Willem Wandik yang mengakui, sejak Sabtu (10/4/2021) pagi, telah melakukan negosiasi dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Sabinus Waker yang berada di Lapangan Terbang Beoga.

“KKB pimpinan Sabinus Waker inilah yang sebelumnya menembak Oktovianus Rayo, guru SD Inpres Beoga dan Yonatan Randen, guru SMPN 1 Beoga, hingga tewas pada Kamis (8/4/2021),” ungkapnya.

Untuk itu, dikatakan Willem, ini perlu penanganan khusus karena menyangkut jenazah dan situasi di sana sehingga tadi mulai jam 6 pagi kita mulai komunikasi terus supaya jenazah ini bisa dievakuasi. Dikatakannya, sejak Jumat (9/4/2021), beredar informasi bila KKB menduduki Lapangan Terbang Beoga dan meminta uang tebusan agar mereka membiarkan pesawat masuk untuk mengevakuasi jenazah.

“Saya sudah berusaha bernegosiasi dengan KKB yang sebenarnya berbasis di Intan Jaya tersebut. Intinya mereka minta uang, akhirnya permintaan mereka kita penuhi, alasan kemanusiaan, sebab jenazah mulai membusuk, mau tidak mau kita penuhi permintaanya,” ucap Willem.e

Ditegaskan Willem negara tidak pernah kalah, ini hanya karena faktor kemanusiaan maka kita penuhi permintaan mereka. Diakuinya sebelum memenuhi permintaan KKB, Willem mengaku sudah berkoordinasi dengan TNI-Polri.

Selain mengevakuasi jenazah, Willem memastikan pesawat SAS milik Pemkab Puncak juga diberi keleluasaan untuk mengirim bahan pokok ke Beoga. Sebelumnya dirinya meminta pertimbangan kepada TNI-Polri. Hal ini terpaksa dilakukan. Kelebihannya kami Pemda Puncak punya aviasi sehingga pesawat bisa masuk.

” Senin (12/4/2021) pesawat bisa masuk lagi untuk antar bahan pokok karena stok di Beoga semakin menipis, sudah satu minggu pesawat tidak masuk,” akui Willam.

Namun Willam mengakui KKB minta uang cukup besar, permintaan mereka itu juga tidak bisa tawar menawar. Sehingga terpaksa diberikan, kalau tidak pesawat tidak bisa masuk dan dampaknya luar biasa.

Willem menjelaskan bila kondisi geografis di Beoga tergolong sangat sulit untuk jalur penerbangan karena dipenuhi oleh gunung dengan tebing-tebing yang sangat curam. Hal ini juga yang membuat helikopter sulit masuk ke wilayah tersebut.

“Sementara jalur tradisional terdekat ke Beoga adalah dari Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Bisa dikatakan Medannya sulit sekali, kalau di Ilaga dan Sinak masih ada tanah datar, di Beoga tidak ada, mirip dengan Sugapa tapi ini lebih sulit,” tegasnya.

Mengenai rencana evakuasi masyarakat pendatang dari Beoga ke Distrik Sugapa, Intan Jaya, ia menyatakan menolak rencana tersebut.

Menurut dia bila para pendatang, yang umumnya bekerja sebagai guru, tenaga kesehatan dan pedagang, keluar dari Beoga, maka daerah tersebut akan mengalami kesulitan lebih besar.

“Saya larang mereka keluar (Beoga) karena kalau mereka pergi maka masalah lebih besar akan datang, tidak ada pelayanan buat masyarakat. Sekarang ini masyarakat sudah lari ke hutan karena takut,” ujar Wandik.

News Feed