Korban Covid 19 Beragama Non Muslim di Pemakaman C Cibadut Bandung Harus Bayar Jutaan Rupiah

-Nasional-475 views
Content Protection by DMCA.com

Laporan : Momos (Amos) Sitohang

BANDUNG,poskota – Parah ditengah-tengah kondisi Covid 19 yang semakin menakutkan di Indonesia, dan presiden Joko Widodo berusaha keras untuk memberi terbaik buat bangsa ini, dengan berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid, ternyata dimanfaatkan tukang gali kuburan.

Parahnya tukang gali kuburan di pemakaman C di Cikadut Bandung, Jawa Barat berbuat ulah dengan memang tarif biaya korban Covid 19, jutaan rupiah kepada korban beragama non muslim. Dikriminasi ini terjadi kepada keluarga Binsar Tambunan (meninggal karena Covid19).

Melalui anak almarhum bernama Putri Tambunan daang ke pemakaman C di Cikadut Bandung untuk mengurus pemakaman jenasah ayahnya. Dirinya di datangi seseorang yang mengaku kordinator bernama Redi di pemakaman C Cikadut.

Kedatangan Redi itu bertujuan untuk meminta biaya pemakaman dengan alasan jenasah yang bersama non muslim untuk pemakaman di pungut biaya sebesar Rp 4 juta, samentara yang beragama muslim di gratiskan.

Dengan adanya permintaan biaya tersebut, sontak anak almarhum Putri Tambunan bertanya, dengan berkata Kenapa harus Bayar pak ?. Redi sebagai kordinator di pemakaman. C di Cikadut menjawab dengan lantang, berkata karena pemakaman non muslim tidak ditanggung pemerintah.

“Saat itu adek saya menawar 2,8 juta tujuannya agar ayah kami bisa dimakamkan, tapi saya hanya menawar 2 juta,” kata Putri Tambunan

Ditambahkan Putri Tambunan tawaran yang ditawarkan senilai 2,8 juta tersebut, masih saja di tolak. Sebab salahsatu rekan Redi menjelaskan dengan berkata “biar ibu tahu, kemarin Saja bu ada beragama Nasrani bayarnya Rp 3,5 juta.

Karena waktu sudah mepet, akhirnya  disepakati di bayar Rp 2,8 juta. Tetapi minta ditulis dikwitansi serta dirinci. Tapi Redi bilang kalau pemakaman malam tidak ada kwitansi. Lalu Putri Tambunan minta supaya di tulis dikertas putih dan dirinci Rp 2,8 juta itu biaya apa saja,

“Saya suruh pak Redi menulis nama ayah saya yang meninggal, dan tanda tangan beliau, serta nama jelas pak Redi, dan jabatan bapak dan serta no HP nya,” ucapnya.

Sehingga Redi yang merupakan kordinator pemakaman C di Cikadut itu mau merinci dengan menulis diberikan putih dengan rincian, Biaya gali : Rp 1,5 juta, Biaya pikul : Rp 1 juta, Salib : Rp 300.000 dengan Total nulai : Rp 2.800.000,-

Putri Tambunan juga meminta nomor Redi di cantumkan dengan alasan “siapa tahu saya perlu kontak bapak untuk melihat kuburan papa saya di TPU Cikadut.” Redi tidak menolak dengan mencantumkan No HP nya.

Sehubungan semakin maraknya pemberitaan di media media lokal.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI Junimart Girsang, mendesak Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Ahmad Dofiri dan Gubernur Jawa barat Ridwan Kamil segera turun ke lapangan guna memproses secara hukum para pelaku pungutan liar (pungli) terhadap keluarga korban Covid-19 yang dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) khusus Covid-19 Cikadut, Bandung.

Berdasarkan laporan masyarakat yang diterimanya, para korban meninggal dunia akibat Covid-19 yang di makamkan di TPU tersebut. Masing-masing keluarganya dipalakin biaya pemakaman hingga Rp 4 juta rupiah, oleh petugas TPU jika tidak membayarkan maka jenazahnya tidak jadi dimakamkan.

“Ini kejahatan pemerasan bahkan kejahatan kemanusiaan melanggar aturan Presiden,” ujar Junimart Girsang kepada wartawan.

Kronologis Kejadian

Perkenalkan, saya Yunita Tambunan., putri kandung dari Pak *Binsar Tambunan* (mama saya *Nelly br Sitorus* _alm_ ) – papa saya adalah Pensiunan Pegawai PT. KAI., tinggal di Jl. Teraso No. 15 Bandung. Papa meninggal karena Covid-19 di RS. Sentosa Bandung hari Selasa, 06 Juli 2021 pk. 10.30, dan dimakamkan ke TPU Khusus Covid-19 di TPU Cikadut hari itu juga..

Yang mau saya ceritakan disini adalah :

Waktu saya datang ke TPU Cikadut mengurus rencana pemakaman papa saya, saya di datangi oleh *Pak Redi* – _Koordinator C_ TPU Cikadut. Dia minta uang *Rp 4.000.000,-* untuk biaya pemakaman papa. Dia bilang bahwa liang lahat sdh di siapkan.

“Saya bertanya., _kenapa saya harus bayar pak_?”.

Pak Redi mengatakan bahwa : *”Kalau non muslim tidak ditanggung pemerintah.”* .

Karena waktu sdh semakin mendesak, saya minta keringanan sama beliau., alasannya saya sampaikan kepada pak Redi : _Pak kiranya punya hati sama saya pak karena saya tidak menginginkan papa saya meninggal karena covid 19 apalagi sekarang ada PPKM Darurat., sehingga pendapatan kami berkurang serta biaya hidup tinggi_.

Akhirnya adik saya menawar harga menjadi Rp 2,8 jt. Lalu aku menawar harga jadi Rp 2 jt. Lalu., salah seorang rekan pak Redi nyeletuk : _Biar ibu tahu, kemarin aja bu ada nasrani bayarnya sdh 3,5 jt_.

Akhirnya saya acc bayar Rp 2,8 jt tetapi minta ditulis dikwitansi serta dirinci. Lalu pak Redi., bilang _kalau pemakaman malam tidak ada kwitansi_. Lalu saya minta supaya di tulis dikertas putih aja pa serta dirinci Rp 2,8 jt itu biaya apa saja, nama yg meninggal, dan tanda tangan beliau, serta nama jelas pak Redi, dan jabatan bapak dan serta no HP nya. Lalu kuitansi diberikan dgn rincian :
1. Biaya gali : Rp 1,5 juta
2. Biaya pikul : Rp 1 juta
3. Salib : Rp 300.000
Total : Rp 2.800.000,-

Saya katakan : “siapa tahu saya perlu kontak bapak untuk melihat kuburan papa saya di tpu cikadut.” Diapun mencantumkan No HP nya.

Sesudah dibawa ke liang lahat tim gali kubur bertanya sama saya yang pakai baju APD : “Bu., saya dengar ada 4 org _non muslim_ yg meninggal katanya ada yg belum bayar satu orang, apakah keluarga pak Binsar Tambunan yang belum bayar bu , maaf ya kalau tersinggung ?”

Saya dan adikku bilang sudah dibayar di bawah pa di kantor. “Oh….!” , kat tukang gali kubur yang pakai baju APD sambil mengucapkan terima kasih. Setelah selesai pemakaman bbrp tukang gali kubur yang pakai baju APD lain menyerbu adik saya dan saya meminta _tambahan uang_. Karena mereka perlu beli vitamin katanya . Adikku di datangi beberapa org gali kubur kecuali aku menghindar. Lalu terpaksa akhirnya dikeluarkan dana Rp 50.000 lagi selain membayar uang parkir Rp 10.000,-

Demikian kisah saya yang sangat memilukan., setelah saya di timpa kemalangan papa saya , ternyata di TPU Covid-19 Cikadut Bandung ada praktek *Pungli* utk pemakaman yang meninggal, terutama Non Muslim. Apakah demikian peraturannya. Mohon pencerahan. Terlampir foto kwitansi, dan dokumen lainnya..

Terima kasih
Salam,

Yunita Tambunan
(Bandung).

 

News Feed