Aku Cinta dan Bangga Profesi Jadi Wartawan

-Nasional-109 views
Content Protection by DMCA.com

aporan: M.Ridwan

JAKARTA, Poskota – Jangan Ditanya Berapa banyak harta dimiliki ..? Karna dia bukan Hartawan..tapi tanyalah Apa Kabar? Pasti dijawab Banyak kabar..ada kabar baik ada juga kabar buruk ..

Wartawan..Walau tak banyak harta Kawan.
Banyak Konfirmasi banyak silaturahmi Banyak Rezeki.

Sedihnya … nasib wartawan terkadang bagaikan lilin dalam Kegelapan … yang terus menerangi rela tubuhnya meleleh terbakar.
Lihat saja banyak wartawan rela bekerja pertaruhkan jiwa dan raganya walau terkadang tak ada gajinya…

Penakluk ‘Napoleon Bonaparte’ ternyata lebih takut kepada 10 wartawan, tingkat 100 tentara musuh.

Orang yang pernah menjadi kaisar Perancis tersebut, pernah digambarkan sebagai wartawan,

“Wartawan itu cerewet, pengecam, kecerdasan, pengawas, penguasa, dan guru bangsa.
Empat surat kabar musuh lebih aku takuti, seribu bayonet ”tandasnya.

Sifat wartawan profesional
Why Napoleon Bonaparte bilang wartawan itu cerewet? Karena wartawan harus bertanya, informasi informasi sedalam dan sedetil mungkin tentang sebuah peristiwa atau masalah, untuk dilaporkan kepada publik. Peliputan peristiwa pasti butuh wawancara. Untuk wawancara, wartawan ya harus cerewet, tanya terus.

Pengecam, karena wartawan pada umumnya orang idealis. Secara langsung atau tidak langsung, eksplisit atau eksplisit, wartawan mengecam ketidakberesan, pejabat korup, masyarakat yang tidak disiplin atau tidak taat aturan. Orang idealis senantiasa mengingkan semua berjalan pada relnya, sesuai dengan aturan, dan tidak berbagai penyimpangan.

Wartawan juga sebuah benda, karena menjalankan fungsi mendidik (untuk mendidik). Mendidik pembacanya biar taat asas, mengendalikan pemikiran dan sikap mereka lewat tulisan. Tanpa harus kehadiran dan terasa menggurui, dengan menyajikan sebuah informasi yang penting dan menarik, sebenarnya wartawan sedang menjadi bagi banyak orang (pembaca).

Menjadi pengawas, karena wartawan menjalankan peran sebagai pengawas kinerja pemerintah, dan perilaku masyarakat (social control). Wartawan adalah mata dan telinga telinga / masyarakat. Semua peristiwa penting tidak penting dari pantauan wartawan, baik yang penting dalam masalah orang penting (pejabat, pejabat), dan kepentingan umum.

Dan tanpa kita sadari, Wartawan adalah penguasa, karena wartawan adalah pengendali arus informasi. Wartawan menentukan apa yang penting dan tidak; menentukan apa yang mesti dipikirkan oleh publik, bahkan mampu mengarahkan, secara langsung atau tidak langsung, bagaimana publik harus menyikapi sebuah masalah. Di sini berjalan agenda media (agenda setting).

Dan yang terakhir, Wartawan adalah guru Bangsa, seperti mimpi, wartawan mendidik pembacanya dalam berbagai hal. Pesan yang dikandung sebuah informasi yang ditulis wartawan, adalah didikan wartawan.

Tentu, semua karakter itu ada pada diri wartawan profesional, yakni wartawan yang menguasai betul teknik jurnalistik, paham bidang liputannya, dan menaati kode etik.

# Ada Oknum Mengaku Wartawan perusak citra insan Pers #

Sedangkan Wartawan yang menjadi pemeras, pencari ‘amplop’, atau menyalahgunakan profesinya, jelas bukan wartawan profesional. Sebut saja wartawan gadungan, wartawan bodreks, yang hanya merusak citra insan pers.

Ada juga ‘wartawan kuda tunggang’, yakni wartawan yang dikendalikan oleh seseorang (pejabat misalnya) dengan bayaran ‘amplop’, dan masih banyak lagi istilah-istilah untuk wartawan beraliran sesat.

Loyalitas terhadap publik dan kebenaran.
Wartawan dituntut untuk tetap setia terhadap publik dan kebenaran. Kebenaran dalam dunia jurnalistik, parameternya adalah ‘faktual’, sesuai dengan fakta, data, tidak ada yang dimanipulasi, apa adanya.

Dan semoga wartawan di republik
ini, mampu menjadi wartawan seperti yang digambarkan oleh sang penakluk.

News Feed