Kasus ISPA Melonjak di Brebes, Dinkes Ungkap Kelompok yang Paling Berisiko

waktu baca 3 menit
Rabu, 7 Okt 2026 08:36 2 Redaksi Jateng

Poskotanews, Brebes – Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Brebes mengingatkan masyarakat untuk memperkuat pola hidup sehat menyusul tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Berdasarkan data Dinkesda Brebes saat ini sekitar 14 ribu pasien telah terjangkit ISPA. Dari jumlah itu, sekitar 10 persen diperkirakan membutuhkan penanganan intensif karena mengalami kondisi lebih berat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Heru Podmonobo mengatakan ISPA memiliki tingkat keparahan yang berbeda, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Pasien dengan kondisi berat membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, termasuk perawatan di rumah sakit.

“ISPA itu kategorinya ringan, sedang, berat. Yang masuk rumah sakit pasti yang berat,” kata Heru. Rabu, (7/10/2026).

Menurut Heru, tidak semua pasien ISPA memerlukan penanganan intensif. Perkiraan pasien yang membutuhkan perawatan sekitar 10 persen dari sekitar 14 ribu pasien yang mengalami ISPA.

“Paling mungkin di 10 persen,” ujarnya.

Heru mengatakan peningkatan kasus ISPA perlu diikuti dengan kewaspadaan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi. Balita, anak dan lanjut usia, serta warga yang mempunyai penyakit penyerta atau komorbid menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

“ISPA akan rentan pada usia-usia, satu balita, kedua lansia, atau yang mempunyai penyakit komorbid. Itu hampir sama,” kata Heru.

Balita dan lansia dinilai lebih berisiko mengalami kondisi yang berat ketika terkena infeksi saluran pernapasan. Risiko serupa juga dapat terjadi pada orang yang memiliki penyakit penyerta karena kondisi kesehatannya dapat memperberat infeksi.

Heru meminta masyarakat memperhatikan kondisi anggota keluarga yang masuk dalam kelompok rentan tersebut. Jika gejala gangguan pernapasan semakin berat, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Heru menjelaskan selain kondisi daya tahan tubuh, faktor cuaca juga disebut berpengaruh terhadap munculnya gangguan saluran pernapasan. Heru membenarkan adanya pengaruh kondisi cuaca terhadap kasus ISPA.

“Pengaruh. Pengaruh cuaca,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Brebes juga menyoroti informasi mengenai influenza tipe A yang disebut memiliki penyebaran lebih cepat. Namun, Heru mengatakan jenis influenza tidak dapat dibedakan hanya berdasarkan kondisi atau gejala pasien.

Menurut dia, penanganan pasien lebih ditentukan berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Tenaga kesehatan membedakan kondisi ISPA berdasarkan kategori ringan, sedang, atau berat untuk menentukan kebutuhan penanganan.

“Kita hanya membedakan untuk ISPA ini sedang, berat. Kalau yang berat butuh penanganan,” kata Heru.

Untuk mengurangi risiko penularan, Dinas Kesehatan Brebes mendorong masyarakat membudayakan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). Upaya pencegahan juga dilakukan melalui anjuran menggunakan masker, terutama ketika seseorang mengalami gejala gangguan pernapasan.

Heru mengatakan ISPA dapat menular melalui droplet atau percikan dari saluran pernapasan. Kontak dekat dengan orang yang sedang sakit dapat meningkatkan risiko penularan.

“Penyebarannya melalui droplet, percikan ludah,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat yang sedang sakit mengenakan masker dan membatasi kontak dengan orang lain, terutama di tempat ramai serta saat berinteraksi dengan kelompok rentan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA